Rekam Jejak Negatif Bahar Bin Smith Menguatkan Dirinya tak Pantas Disebut Ulama

0
52
Rekam Jejak Negatif Bahar Bin Smith Menguatkan Dirinya tak Pantas Disebut Ulama
Rekam Jejak Negatif Bahar Bin Smith Menguatkan Dirinya tak Pantas Disebut Ulama

Publik patut bertanya seperti apakah sosok Habib Bahar Bin Smith pasca ceramah provokatifnya yang menghina Presiden Joko Widodo di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Ceramah itu pun menjadi viral usai diunggah dilaman YouTube. Video berdurasi 60 detik itu memuat, Bahar menyebut Jokowi sebagai pengkhianat negara dan rakyat.

Dia juga menyebut Jokowi sebagai banci dan menyerukan orang-orang untuk membuka celananya.

“Kamu kalau ketemu Jokowi, kalau ketemu Jokowi, kamu buka celananya jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu,” ucap Bahar dalam video yang diunggah ke YouTube pada Selasa (27/11).

Pantaskah jika seorang ulama berceramah seperti itu dengan melontarkan ujaran-ujaran kebencian melalui kata-kata kotor, kasar dan tak pantas diucapkan?

Ceramah Bahar bin Smith justru mengarahkan jamaahnya untuk menentang hukum agama dan negara karena sering menyarankan tindakan main hakim sendiri.

Sikap Bahar Smith menunjukkan rekam jejak dirinya yang negatif, hal ini menguatkan bahwa dirinya tak Pantas disebut Ulama.

Apalagi Bahar Bin Smith kerap kali melontarkan ceramah yang memprovokasi umat Islam untuk melakukan kekerasan dan kriminal.

Berdasarkan penulusuran, pada tahun 2010, Habib Bahar pernah menyerang Jamaah Ahmadiyah di Kebayoran dan ikut serta dalam kerusuhan Makam Mbah Priok.

Kemudian pada tahun 2012, dirinya pernah ditahan pihak kepolisian karena memmimpin aksi sweeping kafe di Kemang dan Bintaro.

Pada saat itu, massa yang dipimpin Habib Bahar mendatangi kafe tersebut dengan persenjataan seperti celurit, stik golf, golok, dan pedang samurai, serta bendera ormas.

Para pelaku kemudian merusak dan menghancurkan barang-barang di kafe dan memukul dua karyawan kafe.

Tak hanya itu, pada Oktober 2018, Bahar Bin Smith pernah didemo ratusan warga Manado yang menolak kedatangannya karena dianggap berpaham radikal.

Sebagai penceramah yang kerap bersinggungan dengan massa, harusnya dapat mengarahkan jamaahnya dengan kalimat yang menyejukkan serta menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan, sebagaimana dasar negara Pancasila.

Sikap keras yang selama ini ditampilkan jelas bukan merupakan ciri dari seorang uiama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here