Secara Psikologis Persekusi Merusak, Jokowi: Jangan Jadi Negara Barbar

Presiden Jokowi
96 Pemirsa

Malang – Dewasa ini, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami tantangan berat. Sejumlah pandangan dan tindakan yang mengancam Bhinneka Tunggal Ika marak bermunculan. Hingga persekusi.

Nah, fenomena persekusi ditengah mayarakat ini dikhawatirkan bisa menghantarkan bangsa Indonesia menjadi negara BARBAR. Karena persekusi itu sendiri sangat berlawanan dengan asas-asas hukum negara Indonesia.

Parahnya lagi, belakangan ini persekusi juga terjadi terhadap pengguna medsos yang mengunggah pendapat.

Banyak pengguna media sosial yang unggahan pendapatnya dipandang melecehkan ulama tertentu atau agama tertentu kemudian, diburu, diumumkan identitasnya, didatangi, bahkan terkadang digrebek.

Jika aksi persekusi dilakukan dengan alasan menegakkan hukum namun tidak melibatkan aparat, maka hal tersebut akan menyeret aksi main hakim sendiri. Baik itu dilakukan oleh perorangan, kelompok, dan secara organisasi.

“Tidak boleh. Kita bisa menjadi negara barbar kalau hal seperti ini dibiarkan,” tegas Jokowi di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Sabtu (3/6/17).

Oleh karena itu, Pancasila dan UUD 1945 yang saat ini dimiliki Indonesia sesungguhnya dapat menghindarkan bangsa dari hal-hal yang tak diinginkan itu.

Kendati demikian, Jokowi telah meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menindak tegas pelaku persekusi.

“Saya sudah perintahkan kepada Kapolri untuk penegakan hukum, penindakan tegas, dan tidak boleh hal-hal seperti itu dibiarkan,” tegasnya lagi.

Terakhir Presiden menegaskan, meminta kepada siapapun, baik individu, kelompok maupun organisasi masyarakat dari kelompok manapun untuk segera menghentikan aksi persekusi.

“Hentikan dan semuanya serahkan persoalan-persoalan yang akan datang itu kepada aparat hukum, kepada Kepolisian,” katanya.

Perlu diketahui, secara psikologis, dampak persekusi sangat menakutkan. Namun besar-kecilnya itu akan tergantung pada perspektif korban. Misalnya, jika mendapat pukulan, buat orang lain mengatakan itu keras, tapi belum tentu buat kita. Namun, buat kita, intimidasi itu adalah hal yang paling buruk.

Dampak akibat persekusi bisa beragam. Salah satunya terwujud dalam bentuk ketakutan kepada publik dengan tak berani pergi ke sekolah. Bisa juga dalam bentuk ketakutan terhadap organisasi yang terasosiasi dengan kelompok yang mengintimidasinya.

Jadi, ancaman-ancaman dan menghakimi ramai-ramai itu sangat pasti menyerang psikis dan traumatik seseorang. Inilah yang terjadi pada kasus PMA (15) di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here