Sedikit Berbeda, Begini Cara Gus Mus Tanggapi Puisi Sukmawati “Ibu Indonesia”

0
254

Bidikdata – Hampir sebagian masyarakat Indonesia terus berucap dan mencaci maki atas apa yang sudah dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Bait demi bait kata demi kata yang keluar dari mulutnya saat membacakan puisi kini menjadi buah bibir. Ada yang senang ada pula yang geram mengomentarinya.

Adapula diantaranya yang memaksa untuk mengerti arti dari untaian kata nan indah itu yang dituliskan dalam sebuah puisi berjudul “Ibu Indonesia”.

Tanpa sadar kini kita semua terjerembab dalam pusaran kata yang sebenarnya juga tidak kita pahami, sebab hanya sang pengarang puisi itulah yang telah merasup kedalam kata-kata itu.

Bahwa sebenarnya kita hanyalah pendengar yang mungkin saja terprovokasi oleh hasutan tanpa muka.

Tapi putri Presiden Pertama RI Bung Karno ini seolah melepaskan ekspresi masyarakat yang mendengarkan dan membiarkan opini liar berkembang. Namun tersadar, Sukma pun dengan cepat pula meluruskan bahwa puisi yang dibacakannya itu adalah sebagai bagian dirinya seorang budayawati. Dalam artian ia menjelaskan bahwa tak ada niat untuk melecehkan umat Islam seperti yang berkembang.

Hal inipun memantik reaksi seorang KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Ia pun memiliki pandangan tersendiri dalam menilai puisi putri sang Proklamator.

Menurutnya, dalam merespon puisi “Ibu Indonesia” ia sedikit ‘kepo’ tentang dibagian mana puisi itu yang menjadi masalah.

Bahkan ia sedikit mengutip, apakah karena Sukmawati dalam puisinya berujar “Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, Lebih cantik dari cadar dirimu.”

“Apakah karena sepenggal kalimat tersebut lantas beliau dihukumi menista syariat Islam? Lalu bagaimana status cadar itu sendiri, apakah termasuk syariat atau bukan?” tanya Gus Mus.

Ia menilai, nyatanya sampai hari ini terdapat dua pendapat tentang cadar, satu mengatakan sebagai syariat, yang satunya mengatakan hanya bagian produk budaya.

Menurutnya bisa saja Sukmawati mengambil pilihan yang kedua yang sama dengan dirinya itu. Sebab hal itu sama-sama produk budaya maka dalam konteks ke-Indonesia-an, kalimat konde lebih sakral nilainya.

Seharusnya dalam menyikapi hal tersebut hendaknya masyarakat Indonesia bersikap terbuka, bijak dan tidak mudah diprovokasi.

Selain itu, Gus Mus juga bertanya, apakah karena dalam puisinya Ibu sukmawati berujar, “Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan adzan mu.”

“Apakah karena penggal kalimat tersebut lantas beliau divonis menista syariat Islam? tanya Gus Mus kembali.

Ia pun mencoba mengajak untuk memperhatikan kalimatnya, sebab disitu disebutkan “lebih merdu dari alunan adzan mu”. “Ibu sukmawati menggunakan kata alunan bukan nilai, disitu terdapat kata ganti “mu”, merujuk kepada siapa kata ganti ini? Bisa jadi ketika dalam proses penciptaan puisi Ibu sukmawati mendengar alunan adzan dari surau sebelah rumah yang mengalun dari bibir keriput mbah ngadiman, suaranya melengking dan garing,” ujar Gus mUs.

Maka, lanjut dia menjelaskan bahwa benar saja suara alunan adzan dari mulut mbah Ngadiman kalah merdu dari kidung ibu pertiwi. Sebab menurutunya lagi, Kidung apa yang merupakan produk ibu pertiwi?

“Bisa saja Dandang Gulo yang mengalun dari suara emas sinden marsinah,” kata nya berpendapat.

Perbedaan sikap inilah yang kerap menjadi tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kita lebih mudah memutuskan untuk mengikuti keitaka yang lainnya menghujat.

Hingga akhirnya, puisi ini pun menjadi kritik tersendiri.

Sejatinya, ketika sebuah karya sastra terlebih berupa puisi telah dilempar keranah publik, maka publik punya hak memberikan penafsirannya, namun pada kenyataannya kita pun tak pernah mencoba menafsiri atau mengkritisi, selain hanya luapan hujatan dan makian. Mungkin hanya itu yang kita bisa.

Dan inilah realitas masyarakat zaman sekarang yang lebih sering menghujat dan mencaci maki dibandingkan dengan berupaya menafsirkan serta menjadikannya sebagai bahan perenungan bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here