Sektor Pariwisata Sumbang PDB Tertinggi di ASEAN

162 Pemirsa

Bidikdata – Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan selama tiga tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sektor pariwisata cukup menggembirakan. Alasannya, sektor pariwisata berhasil menjadi lima besar penyumbang devisa negara.

Selain itu, pariwisata juga mampu menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan tenaga kerja. Hal ini sebagai salah satu bukti bahwa pariwisata di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat baik di dalam maupun di luar negeri.

“Pariwisata peringkat ke empat penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3 persen. Pertumbuhan penerimaan devisa tertinggi, yaitu 13 persen. Biaya marketing hanya 2 persen dari proyeksi devisa,” ujar Arief di Kantor Staf Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, pariwisata menyumbangkan 10 persen PDB nasional dan merupakan nominal tertinggi di ASEAN. Pertumbuhan PDB pariwisata di atas rata-rata industri dengan spending USD 1 Juta atau PDB 170 persen, tertinggi di industri.

Selain itu, sektor pariwisata merupakan penyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau 8,4 persen. Lapangan kerja tumbuh 30 persen dalam 5 tahun. Pencipta lapangan kerja termurah USD 5.000 per satu pekerjaan.

Sektor pariwisata nasional kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional. Sumbangan devisa maupun penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini amat signifikan bagi devisa negara. Bahkan, diperkirakan pada 2019 sudah mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit (CPO).

Devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar USD 13,568 miliar berada di posisi kedua setelah CPO USD 15,965 miliar. Pada 2015, devisa dari sektor pariwisata sebesar USD 12,225 miliar atau berada di posisi keempat di bawah migas USD 18,574 miliar, CPO USD 16,427 miliar, dan batu bara USD 14,717 miliar.

“Tahun 2019, industri pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia yaitu USD 24 miliar, melampaui sektor migas, batubara dan minyak kelapa sawit. Dampak devisa yang masuk langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Arief juga menargetkan di 2019, pariwisata Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan regional, bahkan melampaui ASEAN.

“Pesaing utama kita adalah Thailand dengan devisa pariwisata lebih dari USD 40 miliar, sedangkan negara lainnya relatif mudah dikalahkan. Country Branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding di dunia, pada tahun 2015 melesat lebih dari 100 peringkat menjadi ranking 47, mengalahkan country branding Truly Asia Malaysia (ranking 96) dan country branding Amazing Thailand (ranking 83). Country branding Wonderful Indonesia mencerminkan Positioning dan Differentiating Pariwisata Indonesia.”

Pada tahun 2019, industri pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia yaitu USD 24 miliar, melampaui sektor migas, batubara dan minyak kelapa sawit. Pemerintah menargetkan di 2019, pariwisata Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan regional, bahkan melampaui ASEAN.

Keberhasilan di era Jokowi-JK ini juga menjadi perhatian media Inggris, The Telegraph yang menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata, yaitu mencapai 25,68 persen sedangkan di ASEAN hanya tumbuh tujuh persen dan di dunia hanya enam persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here