Sindikat Kejahatan Siber Terungkap, 93 WNA Asal China dan Taiwan Ditangkap

99 Pemirsa

bidikdata.com – Sindikat kejahatan lintas negara atau transnational crime kian merajalela. Kasus penipuan melalui telepon atau phone fraud yang melibatkan WNA jadi bukti bahwa percepatan untuk mengantisipasi kejahatan lintas negara yang salah satunya melibatkan teknologi informatika harus segera terwujud.

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri akhirnya mengungkap sindikat kejahatan tersebut.

Sebelumnya, Tim Satgassus Bareskrim dan Kepolisian Tiongkok secara serempak menggerebek lokasi sindikat kejahatan siber yang dilakukan warga Cina dan Taiwan di Jakarta, Surabaya dan Bali pada Sabtu (29/7). Petugas meringkus 29 warga Cina terdiri dari 12 perempuan dan 17 pria sindikat kejahatan siber di Jalan Sekolah Duta Pondok Indah Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

Polisi gabungan juga menggerebek rumah sindikat kejahatan siber di Perumahan Puri Bendesa Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Di Bali, polisi menangkap 31 orang terdiri dari 17 warga Cina, 10 warga Taiwan (sembilan wanita dan 18 pria), serta empat warga negara Indonesia (seorang wanita dan tiga pria).

Penangkapan juga dilakukan di Surabaya yang meliputi tiga lokasi kejahatan yakni Jalan Mutiara Graha Family Blok N-1 Bukit Darmo Golf Surabaya, Jalan Graha Family Timur 1 Blok E-68 Bukit Darmo Golf dan Jalan Graha Family Timur 1 Blok E-58 Bukit Darmo Golf. Jumlah warga asing yang diamankan di Surabaya mencapai 93 orang terdiri dari 81 warga Cina dan 12 warga Taiwan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Leonard Sinambela mengatakan, selama melakukan operasinya, mereka telah menyebabkan kerugian senilai Rp 2,4 triliun, dengan korban terbanyak berasal dari negara Cina.

Sementara, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ari Dono Sukmanto mengatakan, kejadian ini membuktikan bahwa dunia tengah tertantang untuk memberantas kejahatan lintas negara ini hingga ke akarnya.

“Ini merupakan tantangan bagi seluruh masyarakat dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia,” katanya, Minggu (30/7/17).

Tak tanggung-tanggung, lanjut Ari mengungkapkan sindikat itu rela mengeluarkan modal untuk melakukan kejahatannya dengan berpindah lokasi di negara lain. Hal ini dilakukan agar tak langsung terdeteksi.

Beruntung, sudah banyak masyarakat Indonesia tak lagi mudah tertipu dengan jebakan penipuan sejenis ini. Bahkan kalau menelusuri di dunia maya, saat ini justru masyarakat Indonesia sudah mampu melawan sindikat ini.

Beberapa juga malah melawan balik para pelakunya. Boleh jadi negara-negara lain mesti belajar pada kita dalam menghadapi kejahatan sejenis ini.

Perlu diketahui, otoritas-otoritas yang berkepentingan dengan kepemilikan data di Indonesia mesti kembali mengetatkan regulasi penyimpanan data milik mereka. Provider telepon, misalnya, yang secara regulasi mewajibkan pemilik SIM Card telepon genggam untuk mengisi identitas. Atau juga bank hingga leasing yang pastinya selalu bersentuhan dengan data nasabah.

Menurut data, Indonesia sudah memiliki perangkat antisipasi bagi masyarakat yang merasa hendak ditipu melalui telepon. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), misalnya, mempersilakan masyarakat untuk melaporkan dengan menghubungi layanan Financial Customer Care (FCC) OJK di nomor telepon 1-500-655 atau kirim screen capture SMS palsu tersebut via email ke alamat: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here