Tak Pernah Punya Niat Baik, Rekomendasi Ijtima Ulama Terbukti Terus Gagal

964 Pemirsa

Ijtima Ulama yang diselenggarakan Persaudaraan Alumni 212 pasca berakhirnya demonstrasi berjilid-jilid yang semakin tidak mendapat simpati masyarakat dan umat muslim Indonesia karena kedok politiknya semakin terbuka dan terang benderang.

Buya Yahya Al-Bahjah pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon menegaskan baik tidaknya suatu ijtima ulama tergantung kepada niatnya.

“Berkumpulnya para ulama kita selalu berharap semoga dibalik perkumpulan ini ada niat yang baik, kalau niatnya baik, kalaupun tidak sukses di dunia sudah mendapatkan pahala dari Allah SWT, kalau niatnya tidak baik akan runtuh sebelum sampai kepada tujuannya” Tegas Buya Yahya dalam menjawab pertanyaan salah satu jamaah dalam video terkait tanggapan Buya terhadap Ijtima Ulama.

Dalam perjalanannya keruntuhan tujuan Ijtima Ulama dari 212 ini telah nyata sejak merekomendasikan pasangan Prabowo Subianto adalah dari kalangan ulama ketika Sandiaga Uno tampil mendampingi Prabowo sebagai cawapres di Pilpres 2019.

Kegagalan Ijtima Ulama I untuk mendorong calon wakil presiden dari Ulama mendampingi Prabowo Subianto tak lantas membuat para ulama tersebut punya malu, mereka lalu kemudian menggelar Ijtima Ulama II dan tetap menyetujui dan mendukung penuh pasangan calon Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno maju ke Pilpres 2019 setelah forum mereka digebrak oleh sang capres.

Pemilu serentak di seluruh wilayah Indonesia akhirnya berhasil terselenggara pada 17 April 2019. Sementara itu untuk pencoblos warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri juga tetap dilangsungkan, dimana penghitungan suara tetap dilakukan pada 17 April.

Melalui hasil hitung cepat atau quick count yang dilakukan berbagai lembaga survei di Indonesia, memprediksikan paslon capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin akan memenangkan Pilpres 2019.

Kemenangan Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin yang tidak direkomendasikan oleh Ijtima Ulama ini akhirnya menjadi shahih setelah KPU menetapkannya sebagai pemenang pemilu dan gugatan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Sekali lagi rekomendasi Ijtima Ulama PA 212 kembali runtuh, dan alih-alih mendapatkan pahala di akhirat seperti yang diucapkan Buya Yahya, karena tujuan politis dan keduniaan para ulama ini sangat nyata dan agama hanya kedok semata sehingga diruntuhkan dan diberi ‘pahala’ langsung oleh Allah SWT berupa kegagalan berturut-turut.

Ijtima Ulama III pun segera digelar agar masyarakat dan umat muslim Indonesia tidak segera menyadari bahwa karomah para ulama 212 ini tidak pantas lagi diperhitungkan.

Mereka pun seperti diduga sebelumnya langsung cuci tangan atas kegagalan dan keruntuhan tujuan mereka dengan menuding kecurangan pihak lain secara terstruktur, sistematis dan masif dalam proses Pilpres 2019.

Lalu seperti apa Allah menunjukkan tipu muslihat dan kelicikan para ulama 212 tersebut dalam menggagalkan rekomendasi Ijtima Ulama III ? Prabowo dan Sandiaga Uno tanpa diduga oleh mereka kemudian mengajukan perselihan hasil pemilihan umum tentang Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi agar doa dan rekomendasi ulama 212 terkait kecurangan dan kejahatan yang terstruktur, sistematis dan masif dalam proses Pemilihan Presiden 2019 dapat terbukti.

Namun lagi-lagi Allah SWT memperlihatkan kehendaknya untuk terus menelanjangi para ulama yang hanya mementingkan kekuasaan dan tujuan duniawi semata itu.

Berkas putusan sengketa Pilpres 2019 Mahkamah Konstitusi setebal 1.944 halaman. Dalam berkas itu berisi dalil-dalil kubu Prabowo Subianto – Sandiaga Uno. Seluruh dalil gugatan Prabowo – Sandiaga ditolak MK.

Putusan ini secara tidak langsung menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo dan Maruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk periode 2019-2024, berdasarkan keputusan hasil rekapitulasi nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Amar putusan mengadili, menyatakan menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua Majelis Hakim Konstitusi Anwar Usman ketika membacakan amar putusan Mahkamah di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam.

Sehingga tuduhan keji dari rekomendasi Ijtima Ulama III tentang kecurangan dan kejahatan yang terstruktur, sistematis dan masif dalam proses Pemilihan Presiden 2019 tak pernah terbukti.

Kegagalan misi Ijtima Ulama berturut-turut selama 3 kali ini akhirnya membutakan mereka dari misi keagamaan dan kebangsaan yang selama ini menjadi kedok mereka, ketegasan sikap Prabowo Subianto untuk meninggalkan mereka juga menjadi isyarat bahwa ulama-ulama tersebut memang tidak pernah mempunyai niat baik seperti yang diramalkan Buya Yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here