Tantangan Mendikristi Gunakan Anggaran hampir Rp. 500 Triliun Secara Efektif

245 Pemirsa

Sosok Nadiem Anwar Makarim yang ditempatkan Presiden Jokowi untuk mengurus kementerian Pendidikan sekaligus pendidikan tinggi cukup mengejutkan masyarakat, namun sekaligus meningkatkan harapan masyarakat bahwa pendiri startup Gojek tersebut mampu meningkatkan kualitas SDM Indonesia seperti yang menjadi visi dan misi pemerintahan periode kedua Presiden Jokowi.

Menteri Nadiem selain mengejutkan karena amanah yang diembannya juga merupakan menteri termuda dalam kabinet Indonesia Maju. Seketika mata dunia khususnya rakyat indonesia tertuju ke sosok anak muda berusia 35 tahun.

Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. lahir di Singapura, 4 Juli 1984; umur 35 tahun. Nadiem Anwar Makarim adalah putra dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayahnya adalah seorang aktivis dan pengacara terkemuka yang berketurunan Minang-Arab. Sedangkan ibunya merupakan penulis lepas, putri dari Hamid Algadri, salah seorang perintis kemerdekaan Indonesia.

Dia merupakan pendiri Go-Jek, sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring yang beroperasi di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam dan Thailand dan pernah dibanggakan Presiden Jokowi karena perusahaannya telah mencapai tingkat decacorn atau perusahaan dengan kapitalisasi pasar diatas US$ 10 Miliar.

Ya selama ini Nadiem hanya dikenal melalui kreasi Gojek. Tadinya khalayak menganggap transportasi jasa online ini biasa biasa saja. Namun ketika Presiden menawarkan Jabatan Presitius yang biasanya dijabat warga setara Professor maka terjadilah keterbelalakan nasional. Definisi sederhana terbelalak adalah biji mata sedikit keluar bersebab adanya campuran dari perasaan heran, terkejut, aneh, luar biasa dan spketakuler terhadap satu peristiwa yang jarang terjadi.

Ketika terbelalak itu melanda seluruh anak negeri maka jadilah dia menjadi keterbelalakan nasional. Indikator keheranan ber ramai ramai itu sangat terukur ketika pengangkatan NAM menjadi Menteri viral di media sosial.

Serta merta Mendikbud dikaitkan dengan Gojek, sehingga bermunculan di media sosial gurauan membayar SPP dengan Go Pay. Raport cukup dikirim via Go Send serta voucher untuk guru sampai sampai muncul Go Go lainnya : Go Blog. Hahahaha

Nadiem meninggalkan zona nyaman. Sama juga dengan kisah nestapa Sandiaga Uno yang tertarik mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden. Apakah Nadiem akan mengalami peristiwa sama tentu tidak.

“Alasan kenapa mungkin saya terpilih (menjadi Mendikbud), satu saya lebih mengerti apa yang akan ada di masa depan kita,” ujar Nadiem Makarim dalam wawancara kepada wartawan.

Dia mengatakan, yang akan menjadi di bawah kewenangannya sebagai Mendikbud adalah pekerjaan yang selama ini ditangani dua kementerian,yakni Mendikbud dan Menristek Dikti.

“Saya bukan hanya mendikbud tapi digabung juga dengan Dikti. Tapi itu baik karena strategi terpadu dan akan menjadi sistem pendidikan terbesar di dunia,” kata Nadiem.

Ke depan, janji Mendikbud Nadiem Makarim, adalah menciptakan pendidikan berbasis kompetensi dan karakter.

Dan semua itu berawal dari seorang guru, baik menyangkut kapabilitas maupun kesejahteraan.

Terkait kemampuan dirinya memprediksi masa depan, Nadiem Makarim menjelaskan, “Saya lebih mengerti apa yang akan terjadi ke depan, karena saya bidangnya bisnis saya di bidang masa depan, antisipasi masa depan.”

Dalam rilis peringkat PISA yang terakhir, peringkat Indonesia hanya ada di nomer 62 dari 72 negara. Kalau dalam ujian sekolah mungkin sama dengan nilai E, dan tidak lulus.

Peringkat Indonesia kalah jauh dengan Singapura yang berada pada peringkat 1 dunia; atau dengan Vietnam (peringkat 22), Malaysia (peringkat 44) dan Thailand (peringkat 55).

Tragisnya adalah peringkat buruk itu terjadi saat anggaran pendidikan Indonesia naik berlipat dibanding lima tahun lalu. Anggaran pendidikan Indonesia saat ini adalah Rp 495 triliun – sebuah angka yang super masif.

Paradoks pemborosan dana hingga hampir 500 triliun itulah salah satu tantangan paling berat yang akan dihadapi oleh Nadiem Makarim sebagai CEO Kemendikbud yang baru.

Yang mengejutkan dari angggaran nyaris Rp 500 triliun buat bidang pendidikan adalah, 60% habis untuk gaji dan tunjangan guru. Artinya hampir Rp 300 triliun adalah buat gaji dan tunjangan.

Gaji guru memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Seorang guru sekarang bisa mendapatkan gaji Rp 10 juta hingga Rp 15 juta/bulan di berbagai kota di tanah air.

Namun ternyata peningkatan gaji yang cukup signifikan itu tidak berdampak signifikan bagi peningkatan kualitas murid-muridnya. Terbukti dengan peringkat PISA yang stagnan dan termehek-mehek.

Kenapa begitu? Sebab selama ini memang tidak ada KPI (key performance indicators) yang terukur dan high impact yang dikaitkan dengan tunjangan/bonus guru.

Tunjangan hanya dikaitkan dengan sertifikasi kompetensi (yang acap hanya formalitas); namun TIDAK DIKAITKAN dengan indikator yang jauh lebih powerful : yakni kemajuan kualitas kepandaian murid-murid peserta sekolah.

Maka Nadiem harus segera menerapkan prinsip yang sangat lazim dalam dunia start up business ini : yakni tetapkan target KPI yang terukur, dan jika tidak tercapai, maka tunjangan guru tidak akan diberikan.

KPI tentang skor kualitas murid harus mendapatkan bobot yang paling besar, sebab inilah esensi pendidikan.

Indeks atau skor kualitas murid harus disusun secara independen dan terukur – serta sebaiknya mengacu pada standar dunia yang dipakai oleh PISA/OECD.

Cukup aneh jika selama ini para guru tidak punya KPI peningkatan skor kualitas murid-murid. Tanpa KPI ini, maka berapapun gaji guru dinaikkan, maka tidak akan berdampak nyata bagi peningkatan level kualitas murid. Dan anggaran ratusan riliun bisa hilang sia-sia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here