Tgl 17 Ramadhan Jatuh 22 Mei, Waspada Provokasi Perang Badar

Tgl 17 Ramadhan Jatuh 22 Mei, Waspada Provokasi Perang Badar
Tgl 17 Ramadhan Jatuh 22 Mei, Waspada Provokasi Perang Badar
1.260 Pemirsa

Isu perang badar yang dihubungkan oleh kubu non parpol BPN Prabowo-Sandi ternyata adalah rekayasa lama untuk mempersiapkan puncak kerusuhan pada tanggal 22 Mei 2019 mendatang saat KPU menggelar sidang pleno terakhir rekapitulasi pemilihan umum 2019.

Seperti diketahui ketika pemerintah sepakat untuk menetapkan 1 Ramadhan 1440 Hijiriah jatuh pada tanggal 6 Mei 2019 makan pada tanggal 22 Mei mendatang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1440 H dimana perang pertama kali terjadi oleh pasukan muslim dibawah pimpinan langsung Nabi Muhammad SAW dengan kaum kafir Qurais.

Beberapa provokasi pihak pendukung Prabowo-Sandi melalui pesan Whatsapp mulai mengobarkan semangat dan melencengkan arti perang badar sebenarnya kepada para pendukung 02.

Tentu mereka berharap ‘Perang Badar’ dapat benar-benar terjadi dan menciptakan kerusuhan sehingga hasil penetapan pemilu 2019 oleh KPU dapat digagalkan karena mereka sendiri yakin hasil pengumuman KPU tidak akan menguntungkan pihak mereka.

Perang Badar sendiri menurut Sirah Nabawiyah bukan sesuatu yang diduga terjadi oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW beserta para sahabat hanya ingin mencegat kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan dengan harta 1000 ekor onta yang disesaki harta senilai 50.000 dinar emas.

Alasan pencegatan ini adalah orang-orang Quraisy adalah orang kafir yang mengumandangkan peperangan terhadap umat Islam (kafir harbi), merampas harta mereka ketika di Mekah, dan mengusir mereka dari wilayah tersebut. Tidak disangka ternyata berita pencegatan ini sampai ke telinga pembesar-pembesar Quraisy di Mekah. Mereka pun keluar dengan kekuatan besar menghadapi pasukan muslim.

Bertemulah dua pasukannya yang tidak imbang jumlahnya; pasukan Islam 313 orang plus Rasulullah SAW sendiri menghadapi pasukan Qurais berjumlah 1300 orang. Rasulullah sempat merasa khawatir akan hal ini, beliau juga belum menyaksikan loyalitas penduduk (pasukan) Madinah di tengah masa-masa sulit. Adapun pasukan Mekah beliau tahu karena telah bersama-sama mengalami masa-masa sulit, sehingga ketika Abu Bakar dan Umar yang meyakinkan Rasulullah, Rasulullah belum merasa puas.

Rasulullah menunggu reaksi pasukan Madinah. Akhirnya berbicaralah salah seorang Anshar, al-Miqdad bin ‘Amr seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami akan bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: “Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, biar kami duduk menanti di sini saja.”

Kemudian al-Miqdad melanjutkan: “Tetapi pegilah Anda bersama Rab Anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian berdua. Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, andai Anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kami pun siap bertempur bersama Anda hingga Anda bisa mencapai tempat itu.”

Pada malam 17 Ramadhan 2H, Rasulullah menyibukkan diri dengan doa untuk pertempuran esok hari. Beliau mendoakan dan menyebutkan satu per satu nama-nama tokoh Quraisy, Abu Jahl dll agar dibinaskan di pertempuran esok hari. Benar saja, tidak satu pun nama yang beliau sebutkan melainkan tewas di Badr.

Keesokan harinya berkecamuklah peperangan, lemparan tombak dan gemertak pedang yang beradu memenuhi medan Badar. Dengan jumlah yang sangat minim, pasukan Islam sempat terdesak dan berpotensi mengalami kekalahan. Akhirnya, Allah turunkan bala bantuan dengan diturunkannya pasukan langit yaitu para malaikat.

Tidak tanggung-tanggung, pemimpinnya para malaikat pun, Malaikat Jibril, turun dari langit dan ikut serta dalam peperangan. Rasulullah bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar, pertolongan Allah sudah datang. Ini Jibril sedang memegang tengkuk kuda guna memacunya, yang pada gigi serinya terdapat debu.”

Allah pun memenangkan pembela-pembela agamanya dan menghinakan pasukan kafir Qurais. Tewaslah semua pembesar-pembesar Quraisy yang turut serta dalam peperangan sehingga meninggalkan duka yang mendalam dan mental yang jatuh di kalangan orang-orang Mekah.

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sendiri mengecam doa penggerak tagar #2019GantiPresiden Neno Warisman ketika mencatut doa nabi SAW saat malam sebelum perang Badar 2 Februari lalu.

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin itu suasana pemilu di Indonesia saat ini jelas berbeda dengan Perang Badar. Pemilu adalah hajatan rutin lima tahunan yang sudah digelar di Indonesia sejak 1955. Tujuannya adalah memilih pemimpin, bukan bermusuhan seperti terjadi dalam Perang Badar.

“Yang menyembah Allah itu tidak hanya di Indonesia, di Pakistan, Malaysia, Mesir, Arab Saudi, dan lainnya banyak yang menyembah Tuhan,” kata Gus Mus.

Menurut Gus Mus orang-orang yang berkontestasi dalam pilpres 2019 semuanya adalah muslim sehingga tidak pantas tidak patut membandingkan Pilpres 2019 dengan perang Badar. Menurut Gus Mus orang-orang yang menyebutkan Pilpres 2019 sebagai perang Badar sudah kehilangan akal sehat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here