Tidak Kapok, Prabowo-Sandi Lagi-Lagi Disamakan Soekarno-Hatta

Tidak Kapok, Prabowo-Sandi Lagi-Lagi Disamakan Soekarno-Hatta
Tidak Kapok, Prabowo-Sandi Lagi-Lagi Disamakan Soekarno-Hatta
183 Pemirsa

Kembali membuat gaduh, begitulah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam pernyataan BPN pada Kamis (17/1) lalu, Direktur Materi Debat Sudirman Said menyebut kekompakan Prabowo-Sandi debat perdana.

Sudirman membandingkan keduanya seperti presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, Sukarno-Hatta. “Kita melihat, kita menyongsong satu fenomena Dwitunggal (sebutan untuk pasangan Sukarno dan Hatta),” kata Sudirman dalam diskusi Perspektif Indonesia dengan tema ‘Debat, Sudah Hebat?’ di The Atjeh Connection, Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu (19/1).

Menurut laporan Kumparan dalam artikel berjudul Timses Klaim Prabowo-Sandi Layaknya Dwitunggal Sukarno-Hatta, Sudirman menyatakan kekompakan ditunjukkan melalui cara Prabowo dan Sandi menjawab pertanyaan.

Prabowo dan Sandi dalam menjawab pertanyaan debat tanpa teks. Keduanya juga kompak melengkapi satu sama lain dalam memberi tanggapan. “Pasangan kami lebih natural karena ada internalisasi.

Jadi yang disampaikan (sesuai apa) yang ada di kepala. Sementara yang lainnya kelihatan betul nampak baca teks sampai berkali-kali, ketika teksnya habis dan ketika ditanya (moderator) masih ada lagi nggak, tidak dijawab juga,” jelas Sudirman.

Mantan menteri ESDM itu menegaskan, kekompakan antara presiden dan wakil presiden menjadi salah satu indikator penting dalam memimpin Indonesia. Menurutnya, Indonesia terlalu besar sehingga tidak mungkin seorang superman memimpin sendirian.

Sudirman juga menilai bahwa Prabowo-Sandi adalah pasangan yang serasi. Perpaduan keduanya dianggap mampu memimpin Indonesia dengan baik. Bukan kali ini saja tim Prabowo-Sandi mendaku pasangan mereka selayaknya Bung Karno dan Bung Hatta.

Beberapa waktu lalu, hal tersebut sudah mencuat. Menurut Wakil Direktur Relawan Jokowi-Amin, Deddy Sitorus, baik Bung Karno, Bung Hatta, maupun Jenderal Soedirman, adalah tokoh besar Indonesia.

Mereka dibesarkan oleh ide-ide autentik dan pertarungan ideologi ataupun fisik. Para pendiri bangsa yang bertindak sebagai pejuang pemikir sekaligus pemikir pejuang hingga menginspirasi Indonesia hingga saat ini.

“Tempat mereka (Bung Karno, Hatta, Soedirman) dan sosok mereka dalam sejarah adalah sumber inspirasi bagi Indonesia. Mereka bertransformasi dari masa penjajahan hingga menjadi pribadi-pribadi terbaik bagi negeri ini,” kata Deddy melalui pernyataan tertulis kepada wartawan, Kamis (25/10/2018).

Namun kini, kata Deddy, tim Prabowo-Sandiaga berusaha mencocokkan capres-cawapresnya seolah seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, dan Bung Hatta. Bagi Deddy, usaha tim Prabowo-Sandiaga itu adalah pelecehan terhadap sejarah.

“Dengan lancang, salah satu kubu yang bertarung di pilpres ini melecehkan memori kolektif bangsa dengan menyamakan mereka dengan sosok yang sama sekali tidak pantas. Upaya mereka ini adalah wujud kegagalan bernalar yang parah, klaim palsu yang tak punya dasar etis dan historis,” ujar caleg PDIP dapil Kalimantan Utara ini. Kepala Kantor Rumah Aspirasi Jokowi-Amin itu juga menyambar isu viral kabar protes cucu Bung Hatta terhadap penyamaan tersebut.

Bagi Deddy, wajar ada pihak-pihak yang protes. “Bung Karno, Bung Hatta, dan Soedirman adalah nasionalis yang direkam dalam setiap langkah perjuangan. Sementara Prabowo dan Sandiaga adalah sebenar-benarnya kapitalis yang mencoba bersalin wajah menjadi politisi pro-rakyat kecil,” ungkapnya. Menurut Deddy, pasangan Prabowo-Sandiaga gagal menemukan otentisitas diri, baik rekam jejak maupun visi untuk rakyat Indonesia.

“Sandiaga dibesarkan industri keuangan, investasi, dan kapitalis Amerika. Demikian juga dengan Prabowo, yang merupakan produk Barat dan diakui adiknya, Hashim Djojohadikusumo,” ujar Deddy.

Bahkan hingga Gustika Jusuf-Hatta, cucu Mohammad Hatta, sempat mengomentari hal tersebut. Melalui akun Twitter, pada 2018 silam, Gustika keberatan ketika Sandiaga disamakan dengan Bung Hatta. Dihubungi lewat direct message, Gustika mengizinkan cuitannya untuk dikutip sebagaimana artikel detik.com berjudul Cucu Bung Hatta Protes Keras Kakeknya Disamakan dengan Sandiaga.

“Untuk orang yang kesabarannya minus kayak gue gini, denger kakek gue disamain sama sandiaga uno rasanya mau muntah. every. single. time. waktu pilpres. why. cant. you find. your own f*cking voice. Hatta is Hatta, you is you. I am a Hatta, but i ain’t Bung Hatta,” tulis Gustika. Gustika mengaku tidak terima Bung Hatta disamakan dengan Sandiaga. Dia juga keberatan saat kakeknya dibawa-bawa dalam kepentingan politik.

“Tidak kenal dengan Bung Hatta tidak usah mengibaratkan sebagai Bung Hatta. Tidak elok menggunakan nama beliau (dan Eyang Karno) demi kepentingan politik. I’m so done, setiap pilpres nama beliau digadai-gadai,” lanjut Gustika.

Gustika menegaskan keberatannya ini juga berlaku jika Bung Hatta disamakan dengan tokoh lain. Dia mengambil contoh Ma’ruf Amin. “Untuk memperjelas, ini berlaku ke semua belah pihak ya. Misalnya Ma’ruf disamakan sama Bung Hatta (karena Hatta turunan ulama tarekat) ya juga salah. Untung tidak terjadi. Dan btw, pilpres lalu Hatta Rajasa tiba-tiba dipanggil “Bung Hatta”, sekarang gantian,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here