Tommy Soeharto Diduga Aktor Gerakan Papua Merdeka

Tommy Soeharto Diduga Aktor Gerakan Papua Merdeka
Tommy Soeharto Diduga Aktor Gerakan Papua Merdeka
463 Pemirsa

Papua – Rupanya keluarga Cendana sangat terusik dengan pemerintahan Jokowi. Setelah ikut memfasillitasi ijtima’ ulama 1 sampai 4. Kini Tomy Soeharto mulai bermain di Papua. Dia memanas-manasi rakyat Papua kalau saat ini ketergantungan negara yang besar terhadap asing dan tingginya hutang. Seakan lupa kalau bapaknya, Soeharto yang memberi karpet merah terhadap Freeport. Sebelumnya, Tomy totalitas merongrong Papua dengan ikut menjadi bacaleg dari partai Berkarya.

Seperti diberitakan detik.com, Tommy Soeharto kembali menyerang pemerintah. Serangannya kali ini dilontarkan ketika Ketum Partai Berkarya itu saat mengunjungi Wamena, Papua.

Senin (10/9/2018), caleg dapil Papua ini berbicara tentang ekonomi dan utang pemerintah yang semakin besar. Menurut Tommy, untuk membawa perubahan ekonomi Indonesia, pemerintah harus menerapkan Trilogi Pembangunan, yang pernah dilaksanakan pada masa Orde Baru.

“Saya melihat selama 20 tahun reformasi malah menurun di mana ketergantungan terhadap asing dan utang luar negeri yang semakin besar. Kegiatan ekonomi masyarakat kecil tidak berkembang,” katanya saat ditemui di Wamena.

Trilogi pembangunan yang dimaksud adalah stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, serta pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara.

“Tanpa stabilitas keamanan, bagaimana kita membangun. Kalau bangsa ini ribut terus, bagaimana ekonomi rakyat akan bertumbuh dan bagaimana pembangunan dilaksanakan. Memang pertumbuhan domestik bruto kita 5 persen, tetapi itu hanya dinikmati segelintir orang, bahkan orang asing, akhirnya utang luar negeri kita membengkak,” katanya.

Sebelum menyerang soal utang, Tommy juga menyerang tentang KKN yang makin marak. Menurut Tommy, di era seperti saat ini, KKN makin menggila dibanding saat Orde Baru.

Tommy menyentil pemerintahan pasca reformasi. Baginya, tidak ada perbaikan dalam pembangunan di Indonesia.

“Reformasi janjikan KKN hilang, tapi nyatanya makin parah. Utang luar negeri semakin besar. Investasi asing pun semakin dimanja,” kata Tommy, Minggu (22/7).

Tomy ini buta sejarah atau bagaimana. Justru Soeharto alias bapaknyalah koruptor terbesar di dunia. Semoga rakyat Papua ikut membaca artikel ini agar tidak termakan hasutan manusia rakus berkedok simpati terhadap “wong cilik”.

Saya tak membayangkan apa yang dilakukan Tomy kalau menetap di Papua sebagai pejabat daerah. Dalam kunjungan pertamanya saja dia sudah berani mencela pemerintah dan mengompori rakyat Papua. Semoga langkah Tomy mencalonkan diri sebagai caleg di Papua tak mendapat suara rakyat.

Seperti diberitakan detik.com juga, Tommy masuk dalam DCS yang dirilis KPU. Di Dapil Papua, putra bungsu Presiden ke-2 RI Soeharto itu menempati nomor urut 1.

Kembali ke Dapil Papua, Tommy menantang sejumlah caleg incumbent. Beberapa di antaranya adalah Komarudin Watubun (PDIP), Elion Numberi (Golkar), Peggi Patrisia (PKB), dan Willem Wandik (Demokrat)

Partai Berkarya sendiri mencalonkan 575 caleg di Pemilu 2019. Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso sebelumnya mengungkap alasan Tommy memilih Dapil Papua.

“Kenapa memilih Papua, saya pun sempat bertanya kepada beliau, kenapa akhirnya memilih Papua. Saya baru akhir-akhir ini memahami ternyata kegandrungan tokoh Tommy Soeharto terhadap rakyat kecil dan daerah terpinggirkan di republik ini,” ujar Priyo beberapa waktu lalu.

Alasan Tomy terlihat sangat konyol mengingat banyak daerah lain di Indonesia yang juga kekurangan dan terpinggirkan. Apalagi Tomy ikut mendukung ijtima ulama yang menginginkan negara bersyariah. Lah Papua sendiri mayoritas agama apa? Pasti ada udang dibalik batu.

Dan ternyata memang keluarga Cendana memiliki saham di Freeport yang kini diusik Jokowi lewat kebijakannya. Saya tak membayangkan kalau Tomy sampai masuk jadi wakil rakyat di Papua, bukannya mensejahterakan, bisa-bisa ikut mendukung gerakan Papua merdeka agar kepentingannya bersama Freeport bisa leluasa di sana.

Berikut sedikit cuplikan hasil penelitian kekayaan Cendana yang bersinggungan dengan Freeport di Papua. Paul Hunt yang menulis di koran Guardian & Mail yang terbit di Inggris, 1 Agustus beberapa tahun lalu, memperkirakan bahwa nilai kekayaan tak teraudit dari yayasan-yayasan Suharto sendiri sekitar US$ 5 milyar.

Dengan kurs terakhir di mana US$ 1 melonjak-lonjak di sekitar Rp 14.000, berarti kekayaan yayasan-yayasan Suharto sekitar Rp 60 trilyun. Namun menurut taksiran badan rahasia AS, Central Intelligence Agency (CIA), sebagaimana dikutip dalam tesis Ph.D. Jeffrey Winters tahun 1991, kekayaan Presiden Suharto sendiri mencapai US$ 15 billion. Jumlah itu harus dilipat dua, kalau kekayaan seluruh anggota keluarga besarnya mau dimasukkan juga (Vriens, 1995: 49).

Itu baru taksiran tahun 1991, delapan tahun sebelum Nusamba menguasai saham-saham empuk di tambang tembaga-emas-perak PT Freeport Indonesia di Irian Jaya, serta raksasa automotif PT Astra Internasional. Makanya taksiran nilai total kekayaan seluruh keluarga besar Suharto, sebesar US$ 40 milyar (Newsweek, 26 Januari 1998), cukup masuk akal. Juga, cukup untuk menebus bangsa Indonesia dari kemelut moneter sekarang ini, tanpa harus berhutang pada IMF.

Begitulah kira-kira alasan Tomy begitu muak dengan pemerintah sekarang yang berusaha mengacak-acak Freeport yang berarti mengacak-acak keluarga Cendana. Akankah kita serahkan Papua kembali ke pangkuan orba yang sekian lama menjarah kekayaan alamnya tanpa balas budi pada rakyat Papua. Menariknya setelah Papua terpinggirkan begitu lama dan dikuras banyak oleh Freeport, kenapa baru sekarang Tomy bersuara? Pastinya ada sesuatu besar dibalik itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here