Tukar Pengalaman, Indonesia-Maladewa Sepakat Atasi Perubahan Iklim

69 Pemirsa

Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi menerima kunjungan kenegaraan Menteri Luar Negeri Repubik Maladewa Mohamed Asim, di Gedung Pancasila Kemlu RI di Jakarta, Rabu 21 Juni 2017.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan dialog diplomasi bilateral antara Indonesia dengan Maladewa, serta membahas sejumlah isu yang berkembang. Diantaranya, kerjasama perdagangan, sektor ketenagakerjaan, kepemerintahan, isu lingkungan, hingga krisis Teluk.

Terkait kerjasama perdagangan, Indonesia dan Maladewa merupakan negara yang sama-sama aktif dalam bidang itu. Sehingga sektor industri pariwisata ini jadi pembahasan yang paling penting.

“Indonesia dan Maladewa sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam bidang pariwisata dan juga saling bertukar pengalaman tentang hal tersebut,” kata Menlu Retno.

Dalam pertemuan tersebut kedua menteri luar negeri juga mengutarakan komitmennya dalam konteks Persetujuan Paris untuk memerangi perubahan iklim karena sebagai negara kepulauan, Indonesia dan Maladewa sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim yang bisa berdampak pada sektor pariwisata dan kelangsungan hidup warganya.

Dari data statistik menunjukkan, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Maladewa pada 2015 sebanyak 3.452 orang, sementara wisatawan Maladewa yang berkunjung ke Indonesia tercatat sebanyak 1.907 orang pada tahun yang sama.

Berdasarkan catatan Kemenlu, setidaknya sekitar 1.400 WNI bekerja di Maladewa dalam sektor pariwisata. Angka tersebut melalui pertukaran people-to-people antara kedua negara dalam konteks pariwisata.

Tak hanya itu saja, masalah konektivitas dan upaya pembangunan yang dilakukan oleh Maladewa untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya tak luput dalam pembahasan.

Sementara, komoditas ekspor utama Indonesia yang rutin dikirim berupa bahan konstruksi, barang pecah belah, produk kerajinan, dan makanan, yang seluruhnya diolah atau dimanfaatkan untuk sektor pariwisata di Maladewa.

Selain itu, potensi perdagangan di bidang industri produksi moda transportasi, Menlu RI menawarkan produk perkapalan dan kedirgantaraan yang diproduksi BUMN Indonesia ke Maladewa.

“Indonesia tawarkan produk moda transportasi yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia dan PT Industri Kapal Indonesia ke mereka,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2016, nilai perdagangan kedua negara hanya mencapai US$ 39 juta dan sebagian besar surplus untuk Indonesia. Pertumbuhan perdagangan antara kedua negara mencapai rata-rata 12 persen. Karena itu, Kemlu RI tenagh giat untuk meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dengan Maladewa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here