Upaya Cepat Pemerintah dalam Menangani Insiden Pesawat Lion Air PK LQP

0
64
Upaya Cepat Pemerintah dalam Menangani Insiden Pesawat Lion Air PK LQP
Upaya Cepat Pemerintah dalam Menangani Insiden Pesawat Lion Air PK LQP

Pemerintah terus berupaya melakukan yang terbaik dalam pencarian korban dan bagian badan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) lalu.

Presiden Joko Widodo mengatakan, Pemerintah telah mengerahkan personel gabungan dari Badan SAR Nasional, Kepolisian, TNI, dan Kementerian Perhubungan. Presiden Jokowi meminta semuanya bekerja 24 jam.

“Saya sudah perintahkan bekerja 24 jam, menggunakan lampu untuk mempercepat pencarian, badan pesawat yang sampai saat ini lokasinya sudah diketahui,” ujar Jokowi di crisis center Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/10/2018).

Sejauh ini memasuki hari keenam, data terbaru pada Sabtu (3/11) pukul 20.15 WIB terdapat penambahan 27 kantong jenazah yang dibawa ke RS Polri yang dikumpulkan oleh kapal KN SAR Sadewa.

Dengan penambahan jumlah tersebut, tim gabungan TNI, Basarnas dan Polisi telah mengumpulkan 104 kantong jenazah Lion Air JT 610-PK LQP terhitung sejak insiden yang terjadi awal pekan lalu.

Kantong berisi beberapa bagian tubuh manusia dikemas dalam sebuah kantong hitam. Seusai didata oleh tim DVI, kantong segera dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

Pencarian pada hari ini Basarnas akan berfokus pada titik di mana ditemukannya sebagian besar potongan tubuh tersebut. Wilayah tersebut memiliki luas dengan radius 50 meter.

“Kami cari, kami petakan. Sehingga itu jaraknya sekitar 52 meter, nanti kami akan lebih teliti lagi di situ.

Karena itu kan bawahnya ada yang lumpur ada yang ini, sehingga itu yang kami cari. Lumpur itu dalamnya satu hingga satu setengah meter, makanya yang tadi saya bilang besok pencarian akan difokuskan lagi di situ,” jelas Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Mayjen Nugroho Budi Wuryanto, di JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tim SAR Gabungan pun juga berhasil menemukan bagian balck box atau kotak hitam yang diketahui adalah Flight Data Recorders (FDR).

Black box adalah satu-satunya benda yang dapat bertahan dalam kecelakaan pesawat. Itu karena black box atau crash-survivable memory units (CSMUs) yang memuat FDR dan CVR itu menggunakan tiga lapis material titanium dan baja anti-karat yang mampu bertahan dari panas yang ekstrem dan tekanan.

Black box juga dilengkapi dengan underwater locator beacon (ULC) yang mengirimkan sinyal otomatis selama 30 hari sejak pesawat mengalami kecelakaan. Sinyal ini berupa gelombang ultrasonik yang bisa dikenali sonar.

Benda yang merekam suara terakhir di pesawat sebelum jatuh itu ditemukan di kedalaman 30 meter lewat alat “Remotely Operated Vehicle” (ROV) yang dimiliki kapal Baruna Jaya I.

Awalnya ROV menemukan serpihan badan pesawat dan sebuah syal yang diduga milik korban. Petugas kemudian membawa ping locater untuk menangkap sinyal ‘beep’ dari kotak hitam tersebut.

Tak berhenti sampai disitu, Tim SAR gabungan terus memperluas pencarian badan kapal dan korban Lion Air dengan mengerahkan kapal disertai alat penunjang dan mengoptimalkan penyelaman.

Untuk mengungkap penyebab tragedi jatuhnya pesawat tersebut, Presiden Jokowi meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk bekerja cepat mengungkap penyebab kecelakaan Lion Air.

Meski demikian Presiden dan seluruh tim dilapangan meminta dukungan doa dari masyarakat untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam pencarian korban dan bagian-bagian badan pesawat yang belum ditemukan.

Insiden jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 PK LQP ini terus mendapat sorotan. Pengamat Industri penerbangan Budhi Mulyawan Suyitno mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah menjalankan langkah sesuai dengan Standar Operating Procedure (SOP) dalam menangani accident yang dialami pesawat Lion Air JT 610.

Mulai dari memeriksa standar keberangkatan, koordinasi dengan Airnav sampai upaya evakuasi awal. “Semua sudah on the track,” jelas dia.

Meski demikian ia mengatakan, Kemenhub dan semua pihak terkait baik itu operator maupun stakehoker lain mesti mengambil pelajaran dari kejadian ini.

“Pelajarannya antara lain semua harus tetap belajar-belajar, dan waspada. Artinya walaupun misalnya pesawat yang digunakan relatif baru, standar pemeriksaan dan pengawasan tidak boleh lengah sedikitnya. Kultur ini harus terbangun mulai dari regulator, maskapai, awak pesawat maupun pihak lain seperti operator bandara, BMKG, dll,” katanya.

Karena menurut dia, bila ini dilakukan secara betul, itu akan menumbuhkan rasa percaya internasional bahwa Indonesia sudah kredibel karena telah melaksanakan prosedur secara baik.

Seperti diketahui, Pesawat type B737-8 Max dengan Nomor Penerbangan JT 610 milik operator Lion Air yang terbang dari Bandar Udara Soekarno Hatta Banten menuju Bandar Udara Depati Amir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung dilaporkan telah hilang kontak pada Senin (29/10/2018) pada sekitar pukul 06.33 WIB.

Pesawat bernomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S – 107 07.16 E. Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal akan tiba di Pangkal Pinang pada Pukul 07.10 WIB. Pesawat sempat meminta return to base sebelum akhirnya hilang dari radar.

Pesawat membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 FA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here