Upaya Kemenristekdikti Mencegah Radikalisme di Kampus

Upaya Kemenristekdikti Mencegah Radikalisme di Kampus
Upaya Kemenristekdikti Mencegah Radikalisme di Kampus
105 Pemirsa

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir membenarkan temuan Badan Intelejen Negara (BIN) yang menyebutkan tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham radikalisme.

Temuan BIN sebelumnya dipublikasikan untuk mengonfirmasi data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut 39 persen mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi negeri di Indonesia simpatik terhadap gerakan radikalisme.

“Masalah terpapar radikalisme ini perlu kami sampaikan perguruan tinggi yang terpapar radikalisme ini semua rektor sudah saya minta untuk melakukan profiling semua dosen dan mahasiswa dari 2017 saya minta itu,” kata Nasir saat di temui di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Kamis (22/11/2018).

Berdasar hasil pendataan Kemenristekdikti, lanjut Nasir, ditemukan beberapa dosen dan sejumlah mahasiswa yang diduga terpapar paham radikal.

Pihaknya pun langsung melakukan pembimbingan serta pilihan kepada orang-orang tersebut dengan pernyataan tertulis, memilih keluar dari NKRI atau bertahan.

“Kalau dia suruh milih apakah dia ingin ke NKRI atau keluar. Kalau keluar ya sudah keluar dari PNS. Kalau kembali ke NKRI kami tindak lanjuti lakukan pembinaan,” kata dia.

Bahkan Nasir mengaku telah menemukan empat orang dosen yang diduga kuat terpapar paham radikal di beberapa universitas kota besar, seperti di Semarang, Surabaya, Bandung dan Solo.

Tak sampai disitu saja, Kemenristekdikti juga telah mengeluarkan Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018, tentang Pembinaan Ideologi Bangsa Dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Lingkungan Kampus.

“Permen 55 itu, saya siapkan supaya apa? Empat pilar kebangsaan harus kita wujudkan di negeri ini, NKRI, UUD, Pancasila Bhinneka Tunggal Ika.

Permen 55 itu dalam rangka bagaimana mahasiswa menjadi harmonis baik dalam kampus maupun di luar kampus dalam kegiatan ekstranya,” ujarnya.

Setiap kampus nantinya akan dibuatkan Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa, yang dianggotai mahasiswa dari beragam organisasi kampus yang sudah ada sebelumnya.

Setiap organisasi mengirim satu orang perwakilan. Mereka di sana akan menerima pembelajaran dari dosen pembingnya untuk melakukan pengawalan terhadap ideologi bangsa tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here